Politik. Partai. Legislatif. Eksekutif. Yudikatif. Reses. Aspirasi.
Kata kata diatas sama sekali gak asing buat saya. Sejak kecil, koran harian sempurna saya lahap tiap hari. Tebak waktu tsunami, saya lagi ngapain? Pagi itu, Anak perempuan kecil kelas 4 itu lagi baca koran pemirsa. Sejak kecil, saya hidup bersama politik. Saya gak bilang dibesarkan oleh politik, karena orang tua saya masih cukup bertanggung jawab buat membesarkan saya, jadi gak ngasih tanggung jawab ngebesarin saya ke politik *abaikan. Sejak kecil, abi dan ummi memang aktif berpolitik, saya sering diajak ikut rapat, ikut kampanye, konvoi, rihlah. Dulu saya senang sekali diajak kesana kemari, karena disana saya akan bertemu dengan teman teman, kita suka mojok dan main main, sedangkan ummi sama abi kita ngurusin urusan mereka. Ditambah lagi, sejak umur saya empat tahun, abi diamanahkan untuk memperjuangkan aspirasi rakyat di kursi legislatif hingga sekarang, hingga umur saya 18 tahun.
Ya, jadi intinya, saya mau bilang, politik itu bukan sesuatu yang asing banget buat saya. Sama sekali enggak.
Tapi bukan berarti saya sepenuhnya mencintai politik. Haha.. Sejujurnya tiap nyusurin jalan, saya enek, super pusing ngeliat spanduk, baliho, poster calon legislatif (caleg) dimana mana, di setiap sudut. Warna warni berserakan, ijo, kuning, merah, biru, oren. Belum lagi udah banyak mobil mobil yang dikasih poster caleg atau partai. Ahh.. Ditambah janji janji politik, pencitraan. Ya saya juga gak bisa bilang semua itu janji palsu.
Saya juga makin lama makin ga sanggup ngikutin berita politik masalah korupsi. Dulu saya mau dan pengen tau jadi saya ngikutin berita korupsi mentri, pejabat, bank, berita pemilihan ketua salah satu lembaga independen negara, berita ini itu. Malah dulu temen temen suka nanya sama saya “wa, yang berita kasus xyz itu sebenernya gimana sih?”. Tapi sekarang, uhh terlalu complicated, dan makin buanyak kasus korupsi dan lain lain yang muncul. Mana satu kasus korupsi gak hanya melibatkan satu orang, banyak, berantai, malah ada yang hampir sekeluarga korupsi. Belum lagi konspirasi ini dan itu buat ngejatohin lawan politiknya.
Ahh.. Emang yang namanya politik itu penuh konspirasi, penuh kepentingan, kebohongan, ketidak adil an, kotor. Ya, politik memang sangat kotor, KALAU PARA POLITISINYA JUGA KOTOR. Yang suka nebar janji (terlalu) manis, money politic, hanya muncul ketika mau pemilu, yang punya kepentingan, yang punya ‘pesanan’ dari pengusaha yang sudah mendanai kampanye caleg tsb, ckck.. Kalo kata orang aceh, “pusing adek, bang”.
Tapi diantara orang orang kotor calon politisi dan diantara ratusan politisi kotor tersebut, saya yakin, teramat yakin, haqqul yakin, masih ada sekelompok orang yang terjun ke dunia politik dengan tujuan yang murni untuk menyejahterakan rakyat, untuk membela rakyat, untuk dakwah, untuk menyampaikan aspirasi rakyat.
Mungkin ini terdengar omong kosong. Tapi saya persis tau, ada segolongan kelompok, yang sumber dana politiknya bukan dari para pengusaha yang punya pesanan, melainkan dari kantong-kantong mereka sendiri, dari sisihan pendapatan mereka, sehingga ketika terpilih, tidak ada hutang ‘pesanan’ yang menghantui. Yang ketika mereka berusaha dijatuhkan oleh lawan politiknya, dihujat, dibenci, beritanya ada di headline koran koran nasional, mereka tidak diajarkan untuk membalas dengan konspirasi lainnya, tapi diarahkan untuk tetap bekerja, mengabdi pada masyarakat, tetap ikhlas melayani ditengah terpaan badai politik itu. Mereka yang gak ragu berbeda pendapat dengan mayoritas golongan lain, walaupun banyak ancaman dilemparkan, karena yang mereka perjuangkan adalah benar dan merupakan aspirasi rakyat. Ya, saya tau itu.
source: http://hilwasalsabila.tumblr.com/post/75116455935/tentang-politik-1-2







0 comments:
Post a Comment