2014 - Garuda Keadilan Aceh

GAruda Keadilan Aceh

Sesungguhnya allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan seperti suatu bangunan yang kokoh. ( As-Saff :4)

We Love Palestine

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai Orang yang melampaui Batas. ( Al-Baqarah : 190)

Malu

malu Adalah sebagian dari Iman

Welcome to our website.

Semua yang ada pada website ini semoga menjadi manfaat

Friday, January 31, 2014

Tentang politik (2/2) -selesai



Walaupun abi dan ummi saya berpolitik dan berafiliasi pada salah satu partai. Bukan berarti saya harus taqlid (ngikutin tanpa tau alesannya) gitu aja afiliasi partai nya abi dan ummi, bukan berarti juga harus berlawanan. Tapi saya, sejak saya mulai bisa menilai, saya menilai, memilih afiliasi partai saya sendiri. Di golongan manakah saya merasa nyaman? Di golongan manakah hati saya tertambat? Politik siapakah yang paling sehat? Yang mana yang visi dan misinya paling bagus? Yang mana yang para anggotanya paling sholih dan sholihah? Yang paling utama adalah pertanyaan yang terakhir. Karena sekalli lagi, hubungan vertikal (hubungan dg Allah, swt) merupakan salah satu faktor utama huhungan horizontal kita (hubungan dg manusia). Kalo hubungan vertikalnya bagus, dia selalu merasa diawasi Allah, takut dosa, ga mungkin dia berniat buat korupsi. Sederhana nya begitu.
Tapi kalo ada yang nanya, loh, politik kok bawa bawa agama? Atau, agama kok bawa bawa politik? Apa itu, kampanye bawa bawa ayat quran!
Memang. Islam dan politik itu tidak berada di ruang yang berbeda. Rasulullah, saw. Nabi kita, teladan manusia sepanjang masa, menpraktekkan politik dalam dakwah beliau. Dan ternyata, terdapat perbedaan jumlah pengikut yang signifikan. Pengikut Nabi, saw setelah beliau mempraktekan cara politik, membangun sebuah negara, bertambah jauh lebih banyak dibandingkan dengan cara dakwah Nabi,saw sebelumnya. Oke, kali ini saya ga akan ngebahas lebih lanjut mengenai politiknya Nabi, saw.
Yang saya sayangkan adalah, ketika politik menjadi bahasan yang tabu. Atau jika seorang mahasiswa berpolitik, itu menjadi hal yang aneh. Saya rasa, sah sah saja. Toh, semua warga indonesia yang telah berusia 17 tahun, sudah bisa mengikuti pemilu kan? Sudah bisa memilih? Namun, tidak membawa politik ke kampus, jika memang peraturan kampus melarang partai politik masuk ke area kampus. Sah sah saja jika di luar kampus mahasiswa berpolitik. Memang sudah memasuki usia pemilih ketika pemilu, kok. Jadi kalau kepedulian terhadap politik tidak dimulai sejak awal? Maka, kapan? Jika sejak awal terbiasa apatis, maka hingga lulus sarjana pun akan tetap apatis. Hingga tua pun akan tetap apatis. Lalu jika mayoritas generasi muda sekarang apatis, maka apa yang akan terjadi berpuluh tahun mendatang? Siapa yang akan peduli terhadap politik di negeri ini?
Apakah kita akan membiarkan orang orang kotor yang menguasai negeri ini? Membiarkan ketidak percayaan kita terhadap pemerintah mengakar kuat? Lalu bagaimana nasib Indonesia berpuluh tahun mendatang jika para penerus bangsa apatis terhadap politik.
Jangan berpikiran politik tidak penting. Asap di dapur rumah, dipengaruhi politik. Harga cabe, bawang, telur, beras, minyak, semua diatur oleh politik. Infrastruktur kota, juga termasuk harga obat. Fasilitas pendidikan di sekolah dan universitas, sistem pendidikan. Hei, semua dipengaruhi oleh politik. Mungkin sekarang saya ga akan membahas lebih rinci bagaimana politik sebenarnya mempengaruhi setiap sisi kehidupan kita.
So, masih memilih untuk apatis? Masih memilih untuk golput? Kalau saya, say no to golput! Masih ada golongan yang harus saya bantu untuk bisa terus maju. Walaupun saya tidak memberi bantuan atau kontribusi yang lebih mungkin, seenggaknya saya tidak menjadi golongan putih saat di dalam bilik suara nanti.
Hanya sedikit pandangan, bisa benar, bisa sebaliknya. Karena Allah-lah yang paing benar dan sebaik baiknya tempat kembali.
Tanoh rencong, penghujung januari 2014. 8:40 AM
Source: http://hilwasalsabila.tumblr.com/post/75116509536/tentang-politik-2-2-selesai

Tentang politik (1/2)



Politik. Partai. Legislatif. Eksekutif. Yudikatif. Reses. Aspirasi.
Kata kata diatas sama sekali gak asing buat saya. Sejak kecil, koran harian sempurna saya lahap tiap hari. Tebak waktu tsunami, saya lagi ngapain? Pagi itu, Anak perempuan kecil kelas 4 itu lagi baca koran pemirsa. Sejak kecil, saya hidup bersama politik. Saya gak bilang dibesarkan oleh politik, karena orang tua saya masih cukup bertanggung jawab buat membesarkan saya, jadi gak ngasih tanggung jawab ngebesarin saya ke politik *abaikan. Sejak kecil, abi dan ummi memang aktif berpolitik, saya sering diajak ikut rapat, ikut kampanye, konvoi, rihlah. Dulu saya senang sekali diajak kesana kemari, karena disana saya akan bertemu dengan teman teman, kita suka mojok dan main main, sedangkan ummi sama abi kita ngurusin urusan mereka. Ditambah lagi, sejak umur saya empat tahun, abi diamanahkan untuk memperjuangkan aspirasi rakyat di kursi legislatif hingga sekarang, hingga umur saya 18 tahun.
Ya, jadi intinya, saya mau bilang, politik itu bukan sesuatu yang asing banget buat saya. Sama sekali enggak.
Tapi bukan berarti saya sepenuhnya mencintai politik. Haha.. Sejujurnya tiap nyusurin jalan, saya enek, super pusing ngeliat spanduk, baliho, poster calon legislatif (caleg) dimana mana, di setiap sudut. Warna warni berserakan, ijo, kuning, merah, biru, oren. Belum lagi udah banyak mobil mobil yang dikasih poster caleg atau partai. Ahh.. Ditambah janji janji politik, pencitraan. Ya saya juga gak bisa bilang semua itu janji palsu.
Saya juga makin lama makin ga sanggup ngikutin berita politik masalah korupsi. Dulu saya mau dan pengen tau jadi saya ngikutin berita korupsi mentri, pejabat, bank, berita pemilihan ketua salah satu lembaga independen negara, berita ini itu. Malah dulu temen temen suka nanya sama saya “wa, yang berita kasus xyz itu sebenernya gimana sih?”. Tapi sekarang, uhh terlalu complicated, dan makin buanyak kasus korupsi dan lain lain yang muncul. Mana satu kasus korupsi gak hanya melibatkan satu orang, banyak, berantai, malah ada yang hampir sekeluarga korupsi. Belum lagi konspirasi ini dan itu buat ngejatohin lawan politiknya.
Ahh.. Emang yang namanya politik itu penuh konspirasi, penuh kepentingan, kebohongan, ketidak adil an, kotor. Ya, politik memang sangat kotor, KALAU PARA POLITISINYA JUGA KOTOR. Yang suka nebar janji (terlalu) manis, money politic, hanya muncul ketika mau pemilu, yang punya kepentingan, yang punya ‘pesanan’ dari pengusaha yang sudah mendanai kampanye caleg tsb, ckck.. Kalo kata orang aceh, “pusing adek, bang”.
Tapi diantara orang orang kotor calon politisi dan diantara ratusan politisi kotor tersebut, saya yakin, teramat yakin, haqqul yakin, masih ada sekelompok orang yang terjun ke dunia politik dengan tujuan yang murni untuk menyejahterakan rakyat, untuk membela rakyat, untuk dakwah, untuk menyampaikan aspirasi rakyat.
 Mungkin ini terdengar omong kosong. Tapi saya persis tau, ada segolongan kelompok, yang sumber dana politiknya bukan dari para pengusaha yang punya pesanan, melainkan dari kantong-kantong mereka sendiri, dari sisihan pendapatan mereka, sehingga ketika terpilih, tidak ada hutang ‘pesanan’ yang menghantui. Yang ketika mereka berusaha dijatuhkan oleh lawan politiknya, dihujat, dibenci, beritanya ada di headline koran koran nasional, mereka tidak diajarkan untuk membalas dengan konspirasi lainnya, tapi diarahkan untuk tetap bekerja, mengabdi pada masyarakat, tetap ikhlas melayani ditengah terpaan badai politik itu. Mereka yang gak ragu berbeda pendapat dengan mayoritas golongan lain, walaupun banyak ancaman dilemparkan, karena yang mereka perjuangkan adalah benar dan merupakan aspirasi rakyat. Ya, saya tau itu.
source: http://hilwasalsabila.tumblr.com/post/75116455935/tentang-politik-1-2

 
>