Walaupun abi dan ummi saya berpolitik dan berafiliasi pada salah satu partai. Bukan berarti saya harus taqlid (ngikutin tanpa tau alesannya) gitu aja afiliasi partai nya abi dan ummi, bukan berarti juga harus berlawanan. Tapi saya, sejak saya mulai bisa menilai, saya menilai, memilih afiliasi partai saya sendiri. Di golongan manakah saya merasa nyaman? Di golongan manakah hati saya tertambat? Politik siapakah yang paling sehat? Yang mana yang visi dan misinya paling bagus? Yang mana yang para anggotanya paling sholih dan sholihah? Yang paling utama adalah pertanyaan yang terakhir. Karena sekalli lagi, hubungan vertikal (hubungan dg Allah, swt) merupakan salah satu faktor utama huhungan horizontal kita (hubungan dg manusia). Kalo hubungan vertikalnya bagus, dia selalu merasa diawasi Allah, takut dosa, ga mungkin dia berniat buat korupsi. Sederhana nya begitu.
Tapi kalo ada yang nanya, loh, politik kok bawa bawa agama? Atau, agama kok bawa bawa politik? Apa itu, kampanye bawa bawa ayat quran!
Memang. Islam dan politik itu tidak berada di ruang yang berbeda. Rasulullah, saw. Nabi kita, teladan manusia sepanjang masa, menpraktekkan politik dalam dakwah beliau. Dan ternyata, terdapat perbedaan jumlah pengikut yang signifikan. Pengikut Nabi, saw setelah beliau mempraktekan cara politik, membangun sebuah negara, bertambah jauh lebih banyak dibandingkan dengan cara dakwah Nabi,saw sebelumnya. Oke, kali ini saya ga akan ngebahas lebih lanjut mengenai politiknya Nabi, saw.
Yang saya sayangkan adalah, ketika politik menjadi bahasan yang tabu. Atau jika seorang mahasiswa berpolitik, itu menjadi hal yang aneh. Saya rasa, sah sah saja. Toh, semua warga indonesia yang telah berusia 17 tahun, sudah bisa mengikuti pemilu kan? Sudah bisa memilih? Namun, tidak membawa politik ke kampus, jika memang peraturan kampus melarang partai politik masuk ke area kampus. Sah sah saja jika di luar kampus mahasiswa berpolitik. Memang sudah memasuki usia pemilih ketika pemilu, kok. Jadi kalau kepedulian terhadap politik tidak dimulai sejak awal? Maka, kapan? Jika sejak awal terbiasa apatis, maka hingga lulus sarjana pun akan tetap apatis. Hingga tua pun akan tetap apatis. Lalu jika mayoritas generasi muda sekarang apatis, maka apa yang akan terjadi berpuluh tahun mendatang? Siapa yang akan peduli terhadap politik di negeri ini?
Apakah kita akan membiarkan orang orang kotor yang menguasai negeri ini? Membiarkan ketidak percayaan kita terhadap pemerintah mengakar kuat? Lalu bagaimana nasib Indonesia berpuluh tahun mendatang jika para penerus bangsa apatis terhadap politik.
Jangan berpikiran politik tidak penting. Asap di dapur rumah, dipengaruhi politik. Harga cabe, bawang, telur, beras, minyak, semua diatur oleh politik. Infrastruktur kota, juga termasuk harga obat. Fasilitas pendidikan di sekolah dan universitas, sistem pendidikan. Hei, semua dipengaruhi oleh politik. Mungkin sekarang saya ga akan membahas lebih rinci bagaimana politik sebenarnya mempengaruhi setiap sisi kehidupan kita.
So, masih memilih untuk apatis? Masih memilih untuk golput? Kalau saya, say no to golput! Masih ada golongan yang harus saya bantu untuk bisa terus maju. Walaupun saya tidak memberi bantuan atau kontribusi yang lebih mungkin, seenggaknya saya tidak menjadi golongan putih saat di dalam bilik suara nanti.
Hanya sedikit pandangan, bisa benar, bisa sebaliknya. Karena Allah-lah yang paing benar dan sebaik baiknya tempat kembali.
Tanoh rencong, penghujung januari 2014. 8:40 AM
Source: http://hilwasalsabila.tumblr.com/post/75116509536/tentang-politik-2-2-selesai







